Perbarui Bangunan Wilayah Rawan Bencana Dengan Konstruksi Sarang Laba Laba I KONSTRUKSI RAMAH LINGKUNGAN
Assalamualaikum Wr. Wb.,
Ikhwah fillah, kali ini penulis akan
membahas mengenai “Konstruksi Ramah Gempa”, dimana kita sebagai pelajar harus
peduli terhadap sesama, baik dalam bidang pendidikan, teknologi, ekonomi, sosial
,maupun budaya. Nah, Kita sebagai pelajar yang peduli terhadap lingkungan
sekitar, mungkin masih ingat dengan tsunami aceh pada tahun 2004. Ini juga merupakan
sebagai salah satu aksi kita sebagai pelajar muslim,untuk mengenang 1 dekade
tragedi tersebut.
Ada beberapa point penting yang ingin
penulis sampaikan dalam postingan kali ini,yaitu:
1.
Bagaimana
potensi gempa di indonesia ? Sehingga mengakibatkan aceh sering gempa
2.
Apa
saja konstruksi ramah lingkungan yang dapat meminimalisir angka kematian ?
3.
Seberapa
penting kita mempersiapkan konstruksi ramah gempa ?
A.
POTENSI GEMPA DI INDONESIA
Indonesia terletak di sebelah
pinggir barat daya dari Cincin Api Pasifik, Hal inilah mengakibatkan tingginya
aktivitas vulkanik dan risiko terjadinya gempa bahkan tsunami di aceh. Kita
juga mungkin masih ingat dengan beberapa bangunan yang masih tetap berdiri
dengan kokoh diatas puing-puing reruntuhan bangunan. Kenapa hal itu bisa
terjadi? Kita akan mengetahuinya dengan penjelasan dibawah ini.
Pada tanggal 26 Desember 2004 pukul 00:58:53 GMT atau waktu 06:58:53
(WIB) terjadi gempa dan tsunami terdahsyat di Samudra Hindia. Lokasi episentrum
gempa adalah sekitar 160 km barat Sumatera di sebelah utara Pulau Simeulue di
Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Menurut data US Geological Survey (USGS), Gempa Aceh menempati
posisi gempa berkekuatan terbesar ketiga setelah gempa Chili dan gempa Alaska,
juga menempati peringkat pertama sebagai gempa dengan durasi penyesaran yang
paling lama yaitu sampai 600 detik. Gempa ini telah menimbulkan serangkaian
tsunami yang merusak pantai-pantai di Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatra Utara,
Sri Lanka, India, Thailand dan negara-negara lainnya dengan tinggi
gelombang hingga 30 meter yang menyebabkan korban jiwa hampir di atas
275.000 orang, belum termasuk ribuan korban hilang dan kerusakan pada
infrastruktur bangunan.
Diantara reruntuhan bangunan di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam,
masih ada beberapa bangunan yang kokoh berdiri dan berfungsi dengan baik,
seperti 32 gedung yang menggunakan pondasi Konstruksi Sarang Laba-laba, yaitu
Gedung Taspen dan Gedung Jiwasraya Banda Aceh, 12 Blok Gedung SMK3 Banda Aceh,
Gedung Dinas Perhubungan NAD, Gedung RSUD Simeulue, Gedung Dinas Kesehatan
Simeulue, Gedung Kantor BAPPEDA Simeulue. Pulau Simeulue merupakan daerah yang
paling dekat dengan episentrum gempa.
B. KONSTRUKSI RAMAH LINGKUNGAN YANG EFEKTIF
B. KONSTRUKSI RAMAH LINGKUNGAN YANG EFEKTIF
" Konstruksi sarang laba-laba merupakan sistem pondasi dangkal yang lebih kaku dan hemat, bila dilihat dari segi materialnya.
Kelebihan lain dari sistem ini merupakan daya tahan horizontal yang cukup
bagus. Karena mempunyai kestabilan yang baik, dimana bila ada gerakan kearah
horizontal sistem ini dapat ditahan oleh tahanan samping, dimana tekanan
samping dari sistem ini cukup besar " Ucap Guru Besar
Geoteknik ITB.
“Salah satu yang terus dikembangkan
teknologi pondasi ramah gempa yang diciptakan putra Indonesia adalah,
Konstruksi Sarang Laba-Laba (KSLL). Konstruksi Sarang Laba-Laba termasuk ke
dalam kelompok pondasi dangkal, mengingat ada juga teknologi bangunan yang
menggunakan pondasi dalam” Ucap ahli bangunan ramah gempa Antonius Budion.
Berangkat dari sebuah penelitian,
lahirlah penemuan baru sistem konstruksi atau pondasi bangunan, sebagai solusi
terhadap dilema yang selalu muncul ketika merencanakan gedung dengan ketinggian
tanggung yang butuh pondasi dangkal, seperti lantai satu hingga delapan.
Penelitian yang dilakukan oleh Ir. Ryantori dan Ir. Soecipto tahun 76 silam,
yang akhirnya melahirkan penemuan baru itu.
Diberi nama konstruksi sarang
laba-laba atau KSLL karena bentuknya yang mirip sarang laba- laba. Sistem
pondasi sarang laba-laba hasil karya bangsa Indonesia asli itu, tak hanya
menjawab kebutuhan dunia teknologi konstruksi akan sistem pondasi yang bernilai
ekonomis dari segi biaya, tapi juga multi fungsi. Dalam perhitungan,
biaya bisa dihemat hingga 50 persen.
Dari segi waktu, sistem KSLL
ini sangat efisien, karena menerapkan prinsip ban berjalan, sehingga
pengerjaannya pun lebih cepat dibanding sistem konstruksi lain. Dari 1000
lebih bangunan yang menggunakan sistem KSLL ini, hingga saat ini
belum terdapat bangunan yang mengalami keretakan berarti. Ini
berarti KSLL memberikan stabilitas yang tinggi, meski terjadi guncangan.
Resiko penurunan yang tidak merata, dapat dieliminasi sampai mendekati angka 0.
Sistem ini mampu membuat tanah menjadi bagian dari struktur pondasi.
Konstruksi sarang laba-laba
dirancang oleh Ryantori dan Sutjipto dari Institut Teknologi Sepuluh November
Surabaya itu telah teruji memiliki ketahanan, meski gedung diguncang gempa
hingga 9 skala Richter. Jika sebelumnya banyak digunakan untuk gedung bertingkat
tanggung, kini fondasi sarang laba laba juga digunakan untuk pembangunan
infrastruktur.
Sistem pondasi tahan gempa sarang
laba-laba yang ditemukan pada 1976 baru ramai digunakan setelah gempa
berkekuatan besar menimpa Aceh dan Padang. Jika gedung lainnya ambruk, bangunan
yang menggunakan konstruksi PT Katama Suryabumi tersebut tetap tegak berdiri.
Bahkan, Departemen Pekerjaan Umum
merekomendasikan peng- gunaan konstruksi sarang laba-laba untuk bandar udara
dan rumah susun yang berada di kawasan lintasan gempa.Di samping memang telah
teruji, konsutruksi fondasi sarang laba-laba juga lebih murah biayanya
dibandingkan dengan bangunan yang menggunakan alat untuk meredam gempa, dengan
bisa mengikuti gerakannya.
KSLL telah terbukti dalam gempa di
Aceh dan Padang dengan tak mengalami kerusakan. Di Aceh dan Padang, KSLL telah
diterapkan untuk bangunan bertingkat dan tidak bertingkat. Teknologi juga terus
dikembangkan dan akan digunakan untuk konstruksi bandara dan jalan.
Pondasi ramah gempa ini telah
mendapat sejumlah penghargaan, seperti penghargaan Konstruksi Indonesia 2007,
Indocement Award dan Ristek 2008, Apresiasi Produk Asli Indonesia dan Rintisan
Teknologi Upakarti Award 2009.
Bangunan rawan gempa belum berarti
anti-kerusakan. Menurut Agoes Widjanarko, Sekretaris Jenderal Kementerian
Pekerjaan Umum, bangunan yang berada di pusat gempa, sekuat apa pun
konstruksinya, pasti akan mengalami kerusakan. "Hanya saja kerusakan yang
ditimbulkan tak akan parah, sehingga penghuni di bangunan tersebut masih dapat menyelamatkan
diri untuk mencari perlindungan," ujar dia.
Hal senada dikemukakan ahli bangunan
ramah gempa, Antonius Budiono. Dia menambahkan, sebenarnya teknologi ramah
gempa di Indonesia sangat banyak tinggal konsultan bangunan memilih yang
dinilai lebih efisien dan aman untuk suatu daerah.
Pemerintah membagi wilayah Indonesia
ke dalam zona gempa sehingga bangunan yang didirikan harus dirancang menghadapi
kekuatan gempa di zona tersebut. Agoes mengatakan, tujuan pemerintah membagi
wilayah Indonesia ke dalam beberapa zona gempa bertujuan mengefisienkan biaya
pembangunan. "Kalau di suatu daerah kemungkinan gempa hanya sampai 3 skala
richter mengapa harus menggunakan struktur bangunan dengan kekuatan sampai 8
skala richter?" ujar Agoes. (Haryo Damardono)
Keunggulan
Inovasi:
- Sistem pondasi yang tahan gempa dan telah terbukti
- Dapat diplikasikan untuk gedung bertingkat 2-10 lantai
- Ekonomis dan ramah lingkungan
- Hemat waktu dalam pengerjaannya
Potensi
Aplikasi:
Telah diaplikasikan dalam
pembangunan gedung-gedung bertingkat 2-10 lantai, terminal peti kemas. Landasan
pesata (apron taxiway, runway) terutama di daerah rawan gempa
Nama : Ir. Ryantori dan Ir. Sutjipto
Institusi
: PT. Katama Suryabumi
Alamat :
Gedung SENTRA PEMUDA No. 38 Jl.
Pemuda Raya Kav.61, 13220
Status
Paten: Telah Terdaftar
Kesiapan
Inovasi: *** Telah Dikomersialkan
Kerjasama Bisnis: *** Terbuka Peringkat Inovasi: *** Paling Prospektif. |
C. PENTINGNYA MEMPERSIAPKAN KONSTRUKSI
RAMAH GEMPA
Masalah besar yang mengancam bangunan gedung dan rumah saat ini, adalah gempa bumi. Dengan semakin seringnya terjadi gempa bumi, banyak orang yang mulai perhatian dengan kekokohan sebuah bangun terhadap gempa bumi. Para pakar bangunan telah lama juga sebenarnya melakukan riset untuk mengokohkan sebuah bangunan termasuk masalah terhadap gempa bumi. Jepang adalah salah satu negara yang banyak melakukan pengembangan terhadap rumah tahan gempa karena di sana sering terjadi gempa.
Masalah besar yang mengancam bangunan gedung dan rumah saat ini, adalah gempa bumi. Dengan semakin seringnya terjadi gempa bumi, banyak orang yang mulai perhatian dengan kekokohan sebuah bangun terhadap gempa bumi. Para pakar bangunan telah lama juga sebenarnya melakukan riset untuk mengokohkan sebuah bangunan termasuk masalah terhadap gempa bumi. Jepang adalah salah satu negara yang banyak melakukan pengembangan terhadap rumah tahan gempa karena di sana sering terjadi gempa.
Bagaimana
dengan Indonesia? jangan salah terhadap potensi SDM Indonesia. Banyak pakar
Indonesia dalam berbagai macam bidang, termasuk dalam masalah rancangan
bangunan.
Salah satunya Kontruksi Sarang Laba-Laba (KSLL).
Salah satunya Kontruksi Sarang Laba-Laba (KSLL).
Disebabkan
indonesia telah memiliki konstruksi sarang laba-laba yang sangat efektif untuk
meminimalisir angka kematian, alangkah baiknya jika diseluruh wilayah indonesia
yang rawan gempa dengan kekuatan >7 SR. Untuk menggunakan konstruksi sarang
laba-laba. Itu merupakan hasil pembelajaran kita setelah melihat kejadian di
aceh,10 tahun yang silam.
Jika
saja, konstruksi bagunan di tiap daerah yang ada di indonesia menggunakan 1
konstruksi biasa saja, yang hanya bisa menahan goncangan <7 SR. Mungkin yang
terkena goncangan 6 SR itu tidak akan terlalu menjadi masalah, namun bagi
wilayah yang sering terkena gempa dengan goncangan 9SR maka sudah pastilah
bangunan itu tidak akan kuat.
Sudah
dapat dipastikan Konstruksi Sarang Laba-Laba sangat efektif untuk digunakan
pada wilayah-wilayah yang rawan gempa untuk meminimalisir angka kematian.
D. HAL YANG BISA KITA LAKUKAN
Dengan pembiayaan apbn, pengembangan teknologi ksll telah dilakukan
kerjasama penelitian bersama kementerian negara ristek, lppm itb dan
departemen perhubungan udara pada fasilitas bandara juwata tarakan
kalimantan. Serta untuk penelitian jalan raya pada tanah kembang
susut di jawa timur dan tanah lunak di kalimantan, bersama depatemen pekerjaan
umum direktorat bina marga dan puslitbang pu.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan saat indonesia masuk kedalam “the ring
of fire”? Kita tidak bisa berbuat terlalu
banyak. Karena kondisi geografis tidaklah bisa kita salahkan. Namun kita bisa
meminimalisir efek dari bencana tersebut, dengan cara meminimalisir angka
kematian & juga memperkuat bangunan-bangunan yang ada di daerah rawan
bencana.
Bagaimana caranya ? bagi penulis
sendiri, sangat menyadari belum bisa berperan aktif untuk meminimalisir angka
kematian tersebut. Namun kita dapat memberi masukan kepada pemerintah maupun
kepada orang-orang yang tinggal di wilayah rawan bencana tersebut untuk
menggunakan konstruksi sarang laba-laba, ini sangat efektif karena bangunan
yang kita buat seakan-akan memaksa tanah untuk menjadi bagian dari struktur
bangunan. Sehingga di setiap ada gerakan gempa, maka bangunan akan mengikuti
lajunya tanah. Bisa kita analogikan sebagai “perahu yang bergoyang diatas
laut”.
Dan kita juga telah melihat kokohnya
bangunan yang menggunakan KSLL ini pada tsunami aceh 1 dekade kemarin. Penulis
harapkan, Mudah-mudahan negeri ini bisa terus berkembang dengan adanya KSLL
yang bisa dijadikan bahan untuk perkembangan bangsa ini utamanya bagi
wilayah-wilayah yang rawan bencana.
Cukup sekian postingan saya kali
ini, mudah-mudahan para pembaca dapat menyerap pengetahuan yang penulis
sampaikan.
Sumber Referensi Tambahan :
Wassalamualaikum Wr. Wb..
