“Seandainya masih ada putriku yang lain, pasti kunikahkan dengan Utsman” H.R. Thabrani
Demikian Rasulullah saw. menghibur Utsman saat ditinggal wafat oleh Ummu Kultsum, putri kedua Nabi yang dinikahkan kepada Utsman untuk menggantikan posisi Ruqayyah yang juga putri Nabi yang wafat saat di pangkuan Utsman karena sakit. Inilah yang kemudian Utsman digelari Dzunnurain, “Pemilik Dua Cahaya”, karena telah menikahi dua putri Nabi.
Demikian Rasulullah saw. menghibur Utsman saat ditinggal wafat oleh Ummu Kultsum, putri kedua Nabi yang dinikahkan kepada Utsman untuk menggantikan posisi Ruqayyah yang juga putri Nabi yang wafat saat di pangkuan Utsman karena sakit. Inilah yang kemudian Utsman digelari Dzunnurain, “Pemilik Dua Cahaya”, karena telah menikahi dua putri Nabi.
Di manapun orang tua akan selalu berusaha
yang terbaik untuk putra-putrinya. Begitupun dengan Rasulullah saw.,
kalimat tersebut keluar dari mulut Beliau yang mengisyaratkan bahwa
pendamping hidup yang terbaik untuk putri-putri Beliau adalah yang
bersifat seperti Utsman.
Rasulullah saw. pernah bertanya kepada Ruqayyah: “Bagaimana menurutmu tentang Abu Abdullah (Utsman)?” Ruqayyah menjawab: “Seperti orang baik lainnya.” Rasulullah saw. kemudian bersabda: “Hormatilah ia, karena ia termasuk sahabatku yang ahlaknya paling mirip denganku.” H.R. Ahmad dan Hakim
PENDUDUK LANGIT PUN MALU KEPADANYA
Gambaran ahlak Utsman tercermin dari sabda Rasulullah saw. berikut ini:
“Tidakkah aku malu pada orang yang malaikat pun malu kepadanya?” H.R. Muslim no.2401
Begitulah jawaban Nabi kepada Aisyah yang bertanya mengapa Beliau bangkit untuk duduk dan merapihkan pakaiannya saat Utsman datang, sebuah perlakuan istimewa padahal sebelumnya Nabi berbaring dalam menyambut Abu Bakar dan Umar bin Khaththab yang lebih dulu bertamu ke rumah Nabi sebelum Utsman.
“Tidakkah aku malu pada orang yang malaikat pun malu kepadanya?” H.R. Muslim no.2401
Begitulah jawaban Nabi kepada Aisyah yang bertanya mengapa Beliau bangkit untuk duduk dan merapihkan pakaiannya saat Utsman datang, sebuah perlakuan istimewa padahal sebelumnya Nabi berbaring dalam menyambut Abu Bakar dan Umar bin Khaththab yang lebih dulu bertamu ke rumah Nabi sebelum Utsman.
Seandainya Utsman mempunyai aib di mata
Rasulullah saw., tentunya Rasulullah akan memalingkan muka dari Utsman.
Oleh karena itu, ketika Nabi hingga Malaikat merasa malu saat bertemu
Utsman, maka perasaan malu tersebut pastilah sebuah penghormatan karena
sangatlah tidak mungkin Nabi menikahkan putrinya kepada orang yang punya
aib.
Penghormatan Nabi bukan karena faktor
usia, karena Utsman 6 tahun lebih muda dari Nabi. Penghormatan tersebut
tentunya dinisbatkan pada kemuliaan ahlak yang di atas rata-rata karena
yang menilai pun bukan orang biasa melainkan seorang Nabi dan para
penduduk langit.
Rasulullah saw. tidak serta merta dengan
terburu-buru memberikan rasa hormat kepada Utsman melainkan tentunya
membutuhkan rentang waktu yang tidak sebentar dan bukti-bukti
kesalehannya dalam kehidupannya.
Seperti apakah rangkaian keindahan ahlak dari Utsman hingga Nabi pun tidak ragu lagi untuk memberikan rasa hormat kepadanya?
ADAKAH YANG MAMPU MEMBAYARKU LEBIH HEBAT LAGI ?
“Kami akan membeli semua barang
daganganmu wahai Abu Amr (Utsman), kami akan memberikanmu dua dirham
untuk setiap satu dirham yang kau beli”.
“Aku bisa mendapatkan lebih dari itu” kata Utsman
Mereka pun menaikkan harga tawar, dan Utsman pun kembali menegaskan: “Aku masih bisa mendapatkan lebih dari itu”.
Ketika mereka merasa sudah tidak mampu untuk menawar lebih tinggi lagi, Utsman akhirnya berkata:
Allah SWT. memberiku keuntungan sepuluh
kali lipat untuk setiap dirham yang kubelanjakan di jalan-Nya. Adakah di
antara kalian yang berani memberiku keuntungan lebih dari itu?
Itulah angin segar yang dinanti-nanti
oleh penduduk Madinah setelah sekian lama dilanda paceklik, dan tanpa
diduga, semua harta dan barang dagangannya hasil berniaga di Syria,
disumbangkan seluruhnya oleh Utsman kepada penduduk Madinah yang sangat
membutuhkannya.
Bukan saat itu saja Utsman tampil untuk
menolong orang-orang yang sedang susah, sumur Rawmah yang dikomersialkan
oleh Yahudi setiap kali orang-orang Islam hendak meminum airnya, lalu
ia beli dengan harga 35.000 dirham dan saat itu juga ia bebaskan sumur
tersebut bagi siapa saja yang membutuhkan air yang ada di sumur
tersebut.
Tidak hanya dalam perkara kebutuhan
pangan saja Utsman banyak memberikan sumbangsihnya, ia pun pernah
berperan besar dalam penghimpunan Jays al-’Usrah (penghimpunan pasukan
di saat kondisi yang serba sulit):
Keadaan begitu genting karena pasukan
Romawi hendak menyerang pasukan muslim yang saat itu minim persenjataan
dan perbekalan. Rasulullah saw. akhirnya tampil berkhutbah yang memberi
semangat kepada semua muslim untuk berlomba-lomba berjihad di jalan
Allah baik jiwa maupun harta.
Di saat seperti itu, seperti biasanya,
Utsman yang paling dulu menyambut seruan Rasulullah: “Wahai Rasulullah,
aku akan menyumbang seratus ekor unta berikut pelana dan
perlengkapannya”.
Dengan tersenyum Rasulullah saw. bersabda: “Tidaklah membahayakan Utsman apa yang diperbuatnya setelah hari ini”. H.R. Tirmidzi dan Ahmad
HAFIDZ YANG SELALU LAPAR AL-QUR’AN
“Kalau hati kita suci, niscaya kita tidak akan pernah puas dengan firman Tuhan. Aku benci bila sehari saja tidak melihat mushaf”
Itulah kata-kata Utsman yang dikenang
selalu oleh Abdurrahman at-Taimi. Kesaksian serupa diungkapkan pula oleh
Hassan yang menyebutkan Utsman rajin meng-khatam-kan al-Qur’an dalam
satu rakaat. Bahkan ar-Rawi pernah melihat mushaf al-Qur’an milik Utsman
banyak yang robek karena terlalu sering dibaca.
Dari rasa kecintaannya yang begitu besar
terhadap al-Qur’an inilah kemudian di masa ia menjadi khalifah ketiga
kaum muslimin, Utsman menyusun al-Qur’an dalam bentuk Mushaf yang di
masa sebelumnya masih berupa tumpukan Shuhuf-shuhuf dan sekaligus
menyatukan gaya bahasanya (Qira’at).
AKU BERBAI’AT KEPADA ALI BIN ABI THALIB…
Itulah jawaban Utsman yang membuat
tertundanya siapa yang menjadi pengganti Umar bin Khaththab, khalifah
yang telah mangkat. Ini bukan berarti Utsman hendak menghambat umat
Islam saat itu untuk mencari pengganti Umar, melainkan Utsman memang
tidak pernah meminta dan berambisi dengan jabatan Khalifah.
Umar bin Khaththab menjelang kematiannya telah mewasiatkan untuk memilih khalifah pengganti dari 6 (enam) kandidat:
* Utsman bin Affan
* Ali bin Abi Thalib
* Abdurrahman bin Auf
* Sa’ad bin Abi Waqqash
* Zubair bin al-Awwam
* Thalhah bin Ubaidilah
* Ali bin Abi Thalib
* Abdurrahman bin Auf
* Sa’ad bin Abi Waqqash
* Zubair bin al-Awwam
* Thalhah bin Ubaidilah
Keenam kandidat kemudian berkumpul dan
bermusyawarah selama tiga hari di bawah panitia pemilihan yang terdiri
dari Abdullah bin Umar, Abu Thalhah al-Anshari, al-Miqdad, dan Suhaib.
Musyawarah pemilihan ini dimulai dengan pembukaan dari Abdurrahman bin
Auf yang berkata: “Pilihlah tiga orang di antara kalian.”
Zubair bin al-Awwam berkata: “Aku memilih Ali.”
Thalhah bin Ubaidilah berkata: “Aku memilih Utsman.”
Sa’ad bin Abi Waqqash berkata: “Aku memilih Abdurrahman bin Auf.”
Abdurrahman bin Auf lalu berkata kepada
Ali dan Utsman: “Aku memilih salah satu di antara kalian berdua yang
sanggup memikul tanggung jawab ini. Jadi, sampaikanlah pendapat kalian
mengenai hal ini.”
Ali maupun Utsman terhening tidak
memberikan jawaban. Abdurrahman bin Auf pun memahami keduanya: “Apa
kalian hendak memikulkan tanggung jawab ini kepadaku? Bukankah yang
paling berhak memikulnya adalah yang terbaik di antara kalian?”
Mendengar hal itu, Ali dan Utsman berkata: “Ya benar.”
Abdurrahman bin Auf kemudian memandangi
para sahabat yang hadir dan meminta pandangan mereka. Ia kemudian
berkata kepada Ali: “Jika kau tidak mau ku-ba’iat, sampaikan
pandanganmu.”
Ali bin Abi Thalib berkata: “Aku memilih Utsman.”
Lalu Abdurrahman bin Auf memandang Utsman bin Affan.
Utsman pun berkata: “Aku memilih Ali bin Abu Thalib.”
Dari keenam kandidat tidak ada satu pun
yang mau mengajukan diri untuk di-ba’iat, begitu pun dengan dua kandidat
terakhir, Ali dan Utsman. Oleh karena itu musyawarah pun ditunda. Pada
hari kedua, Abdurrahman bin Auf berkeliling Madinah menjumpai para
sahabat dan memintai pendapat mereka.
Akhirnya di malam hari ketiga,
Abdurrahman bin Auf memanggil Zubair bin al-Awwam dan Sa’ad bin Abi
Waqqash, mereka bertiga kemudian bermusyawarah. Setelah ketiganya
selesai bermusyawarah, Abdurrahman bin Auf kemudian memanggil Ali bin
Abi Thalib dan keduanya berbincang hingga tengah malam. Ketika Ali pergi
setelah selesai berbincang-bincang, Abdurrahman bin Auf kemudian
memanggil Utsman bin Affan dan keduanya berbincang-bincang hingga adzan
subuh berkumandang.
Pagi itu, kaum muslimin berkumpul di
masjid Nabi. Dihadiri oleh enam kandidat, wakil kaum Muhajirin dan
Anshar, serta para pemimpin pasukan. Abdurrahman bin Auf kemudian
memandang Ali bin Abi Thalib dan membacakan syahadatain, ia berkata
kepada Ali sambil memegang tangannya:
“Engkau punya hubungan dekat dengan
Rasulullah, dan sebagaimana diketahui, engkau pun lebih dulu masuk
Islam. Demi Allah, jika aku memilihmu (Ali), engkau harus berbuat adil.
Dan jika aku memilih Utsman, engkau harus patuh dan taat. Wahai Ali, aku
telah berkeliling menghimpun pendapat berbagai kalangan, dan ternyata
mereka lebih memilih Utsman. Aku berharap engkau menerima ketetapan
ini.”
Setelah berkata kepada Ali, Abdurrahman
bin Auf berkata kepada Utsman: “Aku mem-baiat-mu atas nama sunnah Allah
dan Rasul-Nya, juga dua khalifah sesudahnya.”
Ali bin Abi Thalib adalah orang kedua
yang berkata yang sama kepada Utsman untuk mem-ba’iat-nya sebagai
khalifah pengganti Umar. Saat itu juga semua kaum muslimin yang hadir
serempak mem-ba’iat Utsman sebagai khalifah kaum muslimin.
QISHAH-LAH AKU UNTUK MEMBAHAGIAKANMU…
Utsman sangat dikenal sebagai penyayang
dan pemaaf sebagai pancaran jiwanya yang lembut. Dari kelembutan jiwanya
itulah yang yang kemudian Rasulullah saw. menyebut Utsman sebagai
sahabat yang sangat pemalu di antara sahabat-sahabat lainnya. Bahkan di
jaman jahiliyah, Utsman digelari Abu Layla sebagai penghormatan atas
kelembutan dan keramahannya terhadap sesama.
Utsman lebih baik mengorbankan dirinya
demi melindungi atau membahagiakan orang lain khususnya kepada para
sahabat Nabi. Berikut adalah sepenggal kisah yang menggambarkan sifatnya
tersebut:
Kehidupan di antara para sahabat Nabi
sangat dipenuhi dengan kasih sayang sekalipun dalam apresiasi yang
berbeda-beda. Terkadang di antara mereka tak sungkan untuk langsung
menegur, namun teguran itu tidak pernah didasari oleh kebencian ataupun
ambisi kekuasaan dan harta, melainkan teguran itu didasari oleh kasih
sayang di antara para sahabat yang tidak rela bila saudaranya terpuruk.
Inilah landasan amar ma’ruf nahyi munkar di antara para sahabat yang
penuh kesantunan dan kasih sayang sesama.
Salah satunya adalah dalam kisah Ammar
bin Yasir yang mengkritisi kebijakan Utsman selama menjadi khalifah.
Utsman sangat menghormati Ammar bin Yasir karena ia termasuk dalam
jajaran sahabat generasi Awwalun (orang-orang pertama memeluk Islam).
Ammar suatu hari pernah dipukul oleh
bawahan Utsman di saat ia telah menyampaikan kritisinya kepada Utsman.
Melihat kejadian ini, rombongan delegasi yang bersama Ammar, menuntut
hak qishash kepada Utsman: “Kami menuntutmu wahai Utsman karena telah
memukul Ammar.”
Utsman dengan kasih sayangnya terhadap Ammar, berkata:
“Seorang bawahanku tiba-tiba memukul
Ammar karena tidak beranjak pergi, padahal aku tidak menyuruhnya. Demi
Allah, aku tidak menyuruhnya, bahkan aku tidak menginginkan hal itu
terjadi. Tetapi jikalau engkau memang menuntutku, inilah tubuhku dan
biarkan Ammar melakukan qishash-nya atas diriku.”
Utsman sebenarnya terbebas dari kewajiban
tuntutan qishash tersebut, tetapi apa yang ada di dalam benaknya adalah
ia ingin menghibur hati Ammar yang telah dipukul bawahannya sekaligus
ia pun ingin agar Ammar memahami ketidakpahaman yang luas tentang etika
agama pada bawahannya tersebut. Sehingga Utsman lebih baik mengorbankan
dirinya agar Ammar bisa puas dan bawahannya tidak menanggung tuntutan
qishash tersebut.
Namun Ammar enggan untuk melaksanakannya
karena memang ia pun menyayangi Utsman sebagaimana Nabi menyayanginya.
Abu Hurairah pernah mengungkapkan kesaksiannya di saat Utsman dan
keluarganya dikepung dan mendapat embargo suplai air dan makanan, Ammar
bin Yasir-lah yang paling gigih dan berani untuk menolong Utsman:
“Subhanallah! Dialah (Utsman) yang
membeli sumur ar-Rawmah untuk kalian, tetapi mengapa kalian
menghalang-halanginya minum airnya?! Berilah jalan untuk mendapatkan air
baginya!”
CUKUPLAH AKU SAJA YANG TERBUNUH…
Jauh-jauh hari Rasulullah saw. telah
memperingatkan kaum muslimin saat itu bahwa sepeninggal Beliau akan
terjadi gelombang fitnah yang besar terhadap umat muslim dan itu akan
terjadi di jaman kekhalifahan Utsman bin Affan. Rasulullah saw. pun
memberi isyarat bahwa ujian fitnah yang melanda Utsman akan berakhir
dengan kehilangan nyawanya dengan memberi sebuah nasehat kepadanya
hingga diulang tiga kali:
“Wahai Utsman, jika kelak Allah
memberimu kepemimpinan, lalu kaum munafik hendak melepaskan jubah yang
dipakaikan Allah kepadamu, maka jangan kau lepaskan!” H.R. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad
Kabar masa depan dari sang Nabi ini
justru lebih membuat Utsman semakin tenang saat menghadapi kematiannya
kelak dan semakin membuatnya rindu untuk berkumpul lagi dengan
Rasulullah saw. dan para sahabat yang telah mendahuluinya menghadap ke
hadirat Ilahi.
Hingga suatu saat, Rasulullah saw. menyapanya: “Wahai Utsman, makanlah bersama kami malam ini.”
dan Utsman pun terbangun dari mimpinya dan ia pun menyadari mimpinya
itu merupakan pertanda telah tiba saatnya bagi Utsman untuk menghadap ke
hadirat Allah SWT. Dan benarlah adanya, fitnah besar mengalami
puncaknya pasca mimpi Utsman tersebut.
Para pemberontak mengambil momen untuk
membunuh Utsman pada hari di mana hampir sebagian besar penduduk Madinah
sedang menunaikan ibadah haji.
Di saat terdengar di telinga para sahabat
bahwa sekelompok pasukan pemberontak tengah mengepung rumah Utsman, di
saat itu juga para sahabat yang setia dengan seruan Nabi, bersegera
melindungi rumah Utsman. Di antaranya adalah Abu Hurairah yang datang
kepada Utsman seraya berkata: “Ini hari yang baik untuk berperang bersamamu.”
Namun Utsman, sebagaimana sifatnya yang
tidak ingin para sahabat Nabi ini mengalami luka atau kematian, meminta
Abu Hurairah agar segera pergi dari rumahnya karena Utsman tidak ingin
Abu Hurairah ikut menderita.
Begitupun saat Abdullah bin Umar, Hasan
dan Husain, Abdulah bin Zubair, serta Marwan yang datang hendak
melindunginya, Utsman malah berkata kepada mereka: “Aku meminta kalian pulang, simpanlah senjata kalian, dan diamlah di rumah kalian masing-masing.”
Saat Zaid bin Tsabit datang dan berkata: “Kaum Anshar sudah ada di depan rumah. Mereka menawarkan diri untuk menjadi penolong Allah kembali (Ansharullah).” Tapi lagi-lagi Utsman menolaknya dan meminta mereka untuk segera menjauh dari rumahnya.
Dan yang paling mengesankan adalah ketika
Ali bin Abi Thalib mengirim anak-anaknya, Hasan dan Husain, untuk
melindungi Utsman, Ali pun berpesan kepada Utsman: “Aku bersama lima
ratus orang pasukan berbaju besi. Oleh karena itu, ijinkanlah aku untuk
melindungimu dari mereka. Sungguh engkau tidak pernah melakukan sesuatu
yang menyebabkan darahmu dihalalkan.” Utsman terharu dengan itikad Ali seraya membalas berkata: “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu. Tetapi aku tidak ingin menumpahkan darah para pemuda-pemudaku.”
Setelah semua sahabat Nabi dimintanya
untuk segera keluar dari rumahnya, pada saat itulah para pemberontak
melakukan penyerangan terhadap Utsman. Akhirnya kaum muslimin harus
kehilangan seorang sosok pemimpin yang sangat pemalu, lembut, santun,
dan ramah yang telah mati di pedang para pemberontak.
Apa yang dirindukan Utsman untuk segera
berkumpul kembali dengan Rasulullah saw., Abu Bakar dan Umar, akhirnya
terwujud. Utsman wafat pada 18 Dzulhijah 35 Hijriah setelah hampir
sebulan dirinya dan keluarganya dikepung dan tidak mendapat pasokan
makanan dan air.
“Jika mereka membunuhku,
mudah-mudahan sepeninggalku tidak ada lagi yang berseteru dan saling
membunuh. Aku memohon ampunan kepada Allah jika aku berbuat zalim, dan
aku pun memaafkan jika aku dizalimi.”- Kearifan Utsman bin Affan menghadapi fitnah besar yang melandanya -
SUMBER: “Kisah Hidup Utsman bin Affan” – Dr. Musthafa Murad – Guru Besar Universitas al-Azhar Kairo
SUMBER: “Kisah Hidup Utsman bin Affan” – Dr. Musthafa Murad – Guru Besar Universitas al-Azhar Kairo
Catatan Ringkas :
Beberapa keutamaan Utsman bin Affan Radhiallahu anhu:
- Rasulullah dan Malaikat malu kepadanya.
- keyakinannya akan pahala Allah menjadikannya sangat dermawan.
- selalu rindu kepada Al-Quran.
- Rendah hati dan tidak berambisi jadi khalifah.
Kalau bukan dipilih dan dibaiat banyak kalangan, Utsman pun tidak bermaksud jadi Khalifah..
- sangat penyayang dan pemaaf, lembut hati ingin membahagiakan.
- Tidak ingin orang lain berkorban untuknya..
- Begitu tenang menghadapi takdir kematiannya, bahkan rindu..
- Memiliki kearifan yg bersumber dari kelembutan hati.
Simaklah kalimatnya, Ia mau terbunuh agar tidak ada pembunuhan lagi, mohon ampun kepada Allah bila zalim, dan memberi maaf kalau dizalimi.. sungguh akhlaq mencengangkan..
- Rasulullah dan Malaikat malu kepadanya.
- keyakinannya akan pahala Allah menjadikannya sangat dermawan.
- selalu rindu kepada Al-Quran.
- Rendah hati dan tidak berambisi jadi khalifah.
Kalau bukan dipilih dan dibaiat banyak kalangan, Utsman pun tidak bermaksud jadi Khalifah..
- sangat penyayang dan pemaaf, lembut hati ingin membahagiakan.
- Tidak ingin orang lain berkorban untuknya..
- Begitu tenang menghadapi takdir kematiannya, bahkan rindu..
- Memiliki kearifan yg bersumber dari kelembutan hati.
Simaklah kalimatnya, Ia mau terbunuh agar tidak ada pembunuhan lagi, mohon ampun kepada Allah bila zalim, dan memberi maaf kalau dizalimi.. sungguh akhlaq mencengangkan..
Sungguh saya belum banyak tahu kisah
beliau sebelumnya, semata karena kesempitan ilmu saya. hari ini air mata
saya mengalir untuknya, saya kagum atas kemuliaannya, kedermawanannya..
pantaslah bila malaikat pun malu kepada beliau.
Kini saya lumayan mengerti makna hadis : “..ia termasuk sahabatku yang akhlaknya paling mirip denganku.”.